Thursday

RENUNGAN 1 - Merenung akan kejadian diri dan alam semesta.



 Renungan 1

RENUNGAN dari sudut rohani adalah salah satu perbuatan terbesar yang dilakukan oleh hati; kunci inilah yang membuka pintu yang membolehkan cahaya petunjuk masuk; itu adalah langkah awal ke arah pemahaman dan pemahaman yang betul; banyak orang mengetahui kebaikannya tetapi tidak menyedari hakikat, intipati dan buahnya. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk merenungkan, tetapi hanya sedikit yang melakukannya. Dia juga memuji sebilangan kecil yang benar-benar melakukannya. Allah berfirman; Renungan dari hati adalah salah satu perbuatan terhebat yang dibuat oleh hati;  kunci inilah yang membuka pintu yang membolehkan cahaya petunjuk masuk; itu adalah langkah awal ke arah pemahaman dan pemahaman yang betul; banyak orang mengetahui kebaikannya tetapi tidak menyedari hakikat, intipati dan buahnya. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk merenungkan, tetapi hanya sedikit yang melakukannya. 

Dia juga memuji sebilangan kecil yang benar-benar melakukannya. Allah berfirman: Renungan dari hati adalah salah satu perbuatan terhebat yang dibuat oleh hati;  kunci inilah yang membuka pintu yang membolehkan cahaya petunjuk masuk; itu adalah langkah awal ke arah pemahaman dan pemahaman yang betul; banyak orang mengetahui kebaikannya tetapi tidak menyedari hakikat, intipati dan buahnya. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk merenungkan, tetapi hanya sedikit yang melakukannya. Dia juga memuji sebilangan kecil yang benar-benar melakukannya. Allah berfirman:


“[Mereka] yang mengingati Allah ketika berdiri atau duduk atau berbaring di sisi mereka dan memikirkan kejadian langit dan bumi, [sambil berkata], 'Ya Tuhan kami! Anda tidak membuat ini tanpa tujuan… '”

  [Al ‘Imran: 191]

‘Ataa RA, berkata:“ ‘Ubayd ibn‘ Umayr RA dan saya pernah pergi mengunjungi ‘Sayyidah Aisyah, RA, dan ketika kami tiba, dia berbicara kepada kami dari balik tabir yang mengatakan:‘ O ’Ubayd! Apa yang berhenti daripada mengunjungi saya? '' Dia, katanya, menjawab:

'Riwayat di mana Nabi SAW bersabda:

"Kunjungilah secara berkala, oleh itu orang lebih suka dan merindui anda."

Kemudian dia bertanya kepadanya:

‘Ceritakan perkara paling menakjubkan yang anda alami bersama Nabi SAW; dia kemudian menangis dan berkata:

"Semua urusannya sangat mengagumkan, tetapi suatu malam dia datang kepadaku (iaitu, gilirannya dia bermalam) dan berkata kepadaku:" Jangan mengganggu saya, kerana malam ini saya ingin menyembah Tuhanku. " Kemudian, dia berwuduk, berdiri dalam solat, dan menangis sehingga janggutnya basah kuyup; kemudian, dia turun sujud dan terus menangis hingga merendam lantai, lalu, dia mengakhiri sholatnya dan berbaring di sisinya hingga Sayidina Bilal RA, datang untuk memberitahunya bahawa sudah waktunya untuk solat Fajr, dan ketika Sayidina Bilal RA melihat keadaannya, dia bertanya: 'Wahai utusan Allah! Mengapa anda menangis begitu banyak ketika Allah telah mengampuni semua dosa masa lalu dan masa depan anda? '' Nabi Muhammad SAW menjawab:

"Beberapa ayat diturunkan kepada saya semalam; celakalah orang yang membacanya dan tidak memikirkannya! ”

Kemudian Nabi SAW membaca:

  Maksudnya:


"" [Mereka] yang mengingati Allah ketika berdiri atau duduk atau [berbaring] di atas mereka

sisi dan memikirkan penciptaan langit dan bumi, [berkata], 'Ya Tuhan kami! Anda tidak membuat ini tanpa tujuan… '”

[Al ‘Imran: 191]


Dasar/Sebab menyegerakan Taubat

 

AllahRabbul Jalalluh berfirman dalam ayat yang lain mengenai segera bertobat yang artinya:

 "Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan Taubat yang Nasuha.

(Quran surat at-tahrim ayat 8 )

Yakni benar di dalam tugasnya ada yang mengatakan bahwa maksudnya adalah bernasihat atau menginginkan baik karena Allah dalam taubat itu.

Umar bin al-Khattab RA  ditanya mengenai taubat nasuha Dia berkata "yaitu seseorang bertobat dari perbuatan jahat dan berjanji tidak akan mengulanginya untuk selama-lamanya"

diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA mengenai firman Allah SWT

 "Tuubuu ilallahu taubatan nasuha"

Yaitu bertobat yang bersungguh-sungguh dalam hati memohon ampun dengan lisan dan bermaksud tidak mengulanginya untuk selama-lamanya.

Sebagaimana diriwayatkan dari Rasulullah . beliau bersabda yang artinya:

"Orang yang memohon ampun dengan lidahnya tetapi terus melakukan perbuatan dosa adalah seperti orang yang mengejek Tuhannya"

(roudhotul ulama)

Dari Tsabit Al Banani ; “Dia berkata "iblis telah datang kepadaku dengan menangis ketika ayat Mulia ini turun"

 (tafsir Al lubab)

dari Abu Bakar  RA,  Rasulullah . beliau bersabda yang artinya:

"Tetaplah membaca Laa ilaha illallah dan istighfar serta perbanyaklah membaca keduanya karena iblis yang dilaknat AllahRabbul Jalalluh telah berkata aku binasakan manusia dengan dosa dan maksiat dan mereka membinasakan aku dengan bacaan Laailahaillallah dan istighfar, Setelah aku melihat itu aku binasakan mereka dengan ketenangan nafsu dan mereka tetap mengira bahwa mereka orang-orang mendapat petunjuk.

(Durrun Mantsur).

Dari Rasulullah beliau bersabda yang artinya :

"iblis berkata Ya Tuhanku demi keagunganmu aku tidak henti-henti akan menyesatkan anak cucu Adam selagi nyawa mereka berada pada jasadnya. AllahRabbul Jalalluh berfirman "demi keagungan Ku dan kemegahan Ku Hai hamba terkutuk Akupun tidak berhenti-henti akan mengampuni mereka selagi mereka mau beristighfar".

dari Atha' bin kholid, Dia berkata "telah sampai kepadaku bahwa setelah ayat "waman yaaghfir dzunuba illallahu walam yusirru 'ala maa fa'aluu wahum ya'lamuun" (tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Allah dan mereka tidak akan terus menerus dalam perbuatannya sedang mereka sama-sama mengetahui)

maka berteriaklah iblis yang terkutuk di tengah-tengah anak buahnya dan dia menaburkan debu pada kepalanya dan berteriak sehingga anak buahnya berdatangan dari darat dan lautan Mereka bertanya apa yang terjadi padamu wahai pemimpin kami dia menjawab ada sebuah ayat yang turun dalam kitab Allah SWT yang mengisyaratkan bahwa dosa bisa tidak lagi membahayakan seorang pun dari anak cucu Adam Mereka bertanya apa itu lalu iblis menceritakan pada mereka mereka berkata kita buka saja pintu-pintu kesenangan nafsu untuk mereka lalu mereka tidak akan bertobat dan tidak beristighfar mereka menyangka bahwa mereka berada pada kebenaran maka puaslah iblis dengan gagasan itu.

dari Anas bin Malik ra Dia berkata "aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda yang artinya :

"Allah SWT berfirman, Hai anak cucu Adam Sesungguhnya jika engkau masih mau berdoa kepadaKu dan mengharap Rahmat Ku, Aku akan mengampuni dosa yang telah kau lakukan dan aku telah peduli. Hai anak cucu Adam seandainya dosa-dosamu menumpuk setinggi langit kemudian engkau memohon ampun kepadaKu, Aku pasti akan mengampunimu dan Aku tidak peduli anak cucu adam seandainya engkau datang mengharap Aku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau bertemu Aku dengan tidak menyekutukan sesuatu dengan Aku tentu Aku datang kepadamu dengan memberi ampunan sepenuh bumi.

(hadits riwayat Imam turmudzi). terjemah Durratun Nasihin halaman 138.

kitab terjemah durratun nasihin

 

Bahaya orang yang tidak segera taubat

 



Baiklah pembahasan taubat terahir yaitu bahayanya jika tidak segera taubat atau dalam kata lain menunda-nunda untuk taubat. karena dalam hadits di sebutkan:

"Halakal musawwifuun" yang artinya: "Celakalah orang-orang yang suka menangguhkan taubat."

Bahaya menangguhkan taubat

Musawwif artinya orang yang menangguhkan, yaitu orang yang berkata: "Aku akan bertaubat kelak," Dia adalah celaka, sebab dia seakan-akan menggantungkan urusannya pada kekekalan yang bukan dalam kekuasaannya. Sebab mungkin dia tidak kekal lagi (mati setelah berkata demikian), atau mungkin dia masih hidup, tetapi tidak mampu menghindari dosa pada hari ini, tidak mampu pula menghindarinya pada hari esok. Kelemahannya menghindari dosa sekarang ini tidak lain hanyalah karena dikuasai hawa nafsu. Hawa nafsu itu tidak akan membiarkan pada hari esoknya. Bahkan pengaruhnya berlipat ganda dan bertambah kokoh, kerana sudah terbiasa. Jadi tidaklah hawa nafsu yang diteguhkan manusia dengan kebiasaannya itu sama dengan hawa nafsu yang tidak diteguhkan kedudukannya.

Perhatikanlah, wahai orang-orang yang selalu mengikuti majlis pengajian ilmu. Wahai orang-orang yang berhati bersih, jika Nabi Muhammad Saw. saja memohon ampun dan bertaubat, padahal Allah Rabbul Jalalluh telah mengampuni dosanya yang dahulu maupun yang kemudian, maka bagaimanakah orang yang tidak jelas keadaannya seperti kita, diampuni atau tidak? Tidakkah seharusnya bertaubat kepada Allah Rabbul  Jalalluh dalam setiap waktu? Dan menjadikan lidahnya selalu sibuk dengan bacaan istighfar, selalu berdzikir kepada Tuhan Maha Raja, Yang Maha Pengampun dan yang menyelamatkan dari adzab neraka? ( Majalisul Abrar)

Antara hadits yang berkenaan dengan suruhan menyegerakam taubat yaitu berbunyi:

"Apa bila Allah Rabbul Jalalluh. menghendaki baik hambaNya, ia pasti akan menyegerakan (siksa) baginya di dunia. tetapi jika Dia menghendaki buruk pada hambaNya, dia pasti menangguhkan hukuman hamba itu sebab dosanya, sehingga akan di tepatinya di hari kiamat kelak. Anjuran segera bertaubat

Membahas masih sekitar tentang taubat yaitu dengan judul anjuran segera bertaubat. dalam kitab terjemah Durratun Nasihin disebutkan Allah SWT berfirman dalam Alquran yang artinya :

"dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah wahai orang-orang beriman agar kamu beruntung” (Quran surat An Nur 31)

Seorang ahli hikmah berkata bahwa tobat seseorang dapat diketahui dengan 4 hal:

1-Dia akan memelihara lidahnya dari ucapan yang tidak ada gunanya pergunjingan Adu Domba dan bohong

2-Dia tidak memiliki rasa kedengkian dalam hatinya atau permusuhan kepada siapapun dari manusia kini

3-memisahkan diri dari orang-orang jahat dan tidak berkawan dengan salah seorang dari mereka

4-dia akan selalu bersiap diri menyambut kematian menyesali dosa dan memohon ampun dari dosa yang pernah dikerjakannya serta bersungguh-sungguh dalam taat kepada AllahRabbul Jalalluh.

Sumber  kitab terjemah durratun nasihin

Wednesday

Tangisan Rasulullah ﷺ yang Menggoncang 'Arsy

 

Sepanjang sejarah manusia, tidak ada nama yang kehidupannya diceritakan secara detail seperti kisah . Beliau adalah sosok manusia sempurna yang kepribadian dan tutur katanya penuh hikmah.

Dalam kisah para nabi dan rasul, banyak diceritakan kisah keseharian maupun mukjizat,  Rasulullah . Ada satu kisah yang menggetarkan hati saat Rasulullah yang mulia menangis hingga tangisannya menggoncang 'Arsy, tempat singgasana Allah 'Azza wa Jalla.

Dikisahkan, ketika itu Rasulullah sedang thawaf di Ka’bah, Rasulullah mendengar seseorang di hadapannya berthawaf, sambil berzikir: "Ya Kariim! Ya Kariim.

Rasulullah menirunya membaca "Ya Kariim! Ya Kariim!" Orang itu lalu berhenti di salah satu sudut Ka’bah, dan berzikir lagi: "Ya Kariim! Ya Kariim!" Rasulullah yang berada di belakangnya mengikut zikirnya "Ya Karim! Ya Karim!"

Merasa seperti diolok-olokkan, orang itu menoleh ke belakang dan melihat seorang laki-laki yang gagah, lagi tampan yang belum pernah dikenalinya. Orang itu lalu berkata: "Wahai orang tampan! Apakah engkau memang sengaja memperolok-olokkanku, karena aku ini adalah orang Arab badwi? Kalau bukan karena ketampananmu dan kegagahanmu, pasti engkau akan aku laporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah ."

Mendengar kata-kata orang Arab baduwi itu, Rasulullah tersenyum, lalu bertanya: "Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?"

"Belum," jawab orang itu. "Jadi bagaimana kau beriman kepadanya?"

"Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan sabdanya, sekalipun saya belum pernah bertemu dengannya," kata orang Arab badwi itu pula.

Rasulullah pun berkata kepadanya: "Wahai orang Arab! Ketahuilah aku ini Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat!" Melihat  Rasulullah di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya.

"Tuan ini Nabi Muhammad?" "Ya" jawab Rasulullah . Si Arab badwi itu pun tunduk mencium kedua kaki Rasulullah SAW.

Melihat itu, Rasulullah menarik tubuh orang Arab itu, seraya berkata kepadanya: "Wahal orang Arab! janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu balasannya dilakukan oleh hamba sahaya kepada juragannya, Ketahuilah, Allah mengutusku bukan untuk menjadi seorang yang takabbur yang meminta dihormati, atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman, dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya."

Ketika itulah, Malaikat Jibril AS turun membawa kabar dari langit dia berkata:

"Ya Muhammad! Tuhan As-Salam mengucapkan salam kepadamu dan berpesan: "Katakanlah kepada orang Arab itu, agar dia tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar!"

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Maka orang Arab itu pula berkata: "Demi keagungan serta kemuliaan Tuhan, jika Tuhan akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan dengannya!" kata orang Arab badwi itu.

"Apakah yang akan engkau perhitungkan dengan Tuhan?" Rasulullah bertanya kepadanya.

"Jika Tuhan akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa besar maghfirahnya," jawab orang itu. "Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luas pengampunan-Nya. Jika Dia memperhitungkan kekikiran hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa kedermawanannya!" sambungnya lagi.

 

Mendengar ucapan orang Arab badwi itu, maka Rasulullah pun menangis mengingat betapa benarnya kata-kata orang Arab badwi itu, air mata beliau meleleh membasahi janggutnya.

Melihat itu Malaikat Jibril pun turun kembali seraya berkata:

"Ya Muhammad! Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu, dan berpesan: Berhentilah engkau menangis! Sesungguhnya karena tangismu, penjaga 'Arsy lupa dengan bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga Ia bergoncang. Katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan memperhitungkan kemaksiatannya. Allah sudah mengampuni semua kesalahannya dan ia akan menjadi temanmu di syurga nanti!"

Mendengar kabar itu, orang Arab badwi lalu menangis karena tak mampu menahan rasa harunya. Betapa tidak, kabar  akan menjadi ahli syuga menemani Rasulullah tentu dambaan dan cita-cita semua orang.Berkat rahmat Allah Azza wa Jalla dan kemuliaan Rasulullah , orang Arab Badwi itu menjadi salah satu orang yang beruntung. Semoga kisah ini bolih menambah kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.


kredit: sindonews

Sunday

Nasihati Diri

 


Menasihati Diri

Pemberi nasihat yang berbicara adalah Alquran, sedangkan yang diam adalah kematian. Keduanya sudah cukup bagi mereka yang mahu mengambil nasihat. Siapa yang tak mahu mengambil nasihat dan keduanya itu, bagaimana ia akan menasihati orang lain? Aku telah menasihati diriku dengan keduanya. Lalu aku pun membenarkan dan menerimanya dengan ucapan dan akal, tapi tidak dalam kenyataan dan perbuatan. Aku berkata pada diri ini, “Apakah engkau percaya bahwa Alquran merupakan pemberi nasihat yang berbicara dan juru nasihat yang benar, serta merupakan kalam Allah yang diturunkan tanpa ada kebatilan, baik dari depan mahu pun dari belakangnya?” Ia menjawab, “Benar.” Allah Rabbul Jallaluh. berfirman,




“Siapa yang menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepadanya balasan amal perbuatan mereka di dunia dan mereka di dunia ini tak akan dirugikan. Mereka itulah yang tidak akan memperoleh apa-apa di akhirat kecuali neraka. Dan gugurlah semua amal perbuatan mereka serta batallah apa yang mereka kerjakan” (Q.S. Hud: 15-16).

Berbicara tentang nasihat, aku melihat diriku tidaklah layak untuk memberikannya. Sebab, nasihat seperti zakat. Nisab-nya adalah mengambil nasihat atau pelajaran untuk diri sendiri. Siapa yang tak sampai pada nisab, bagaimana ia akan mengeluarkan zakat? Orang yang tak memiliki cahaya mana mungkin menjadi penerang kepada yang lain. Bagaimana bayangan akan lurus jika kayunya bengkok? Allah Rabbul Jallaluh. mewahyukan kepada Isa bin Maryam:

 “Nasihatilah dirimu! Jika engkau telah mengambil nasihat, maka nasihatilah orang-orang. Jika tidak, malulah kepada-Ku.”

Rasulullah bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian dua pemberi nasihat: yang berbicara dan yang diam.”

Allah Rabbul Jallaluh. menjanjikan neraka bagimu karena engkau menginginkan dunia. Segala sesuatu yang tak menyertaimu setelah mati, adalah termasuk dunia. Apakah engkau telah membersihkan diri dan keinginan dan cinta pada dunia? Seandainya ada seorang dokter Nasrani yang memastikan bahwa engkau akan mati atau sakit jika memenuhi nafsu syahwat yang paling menggiurkan, niscaya engkau akan takut dan menghindarinya. Apakah dokter Nasrani itu lebih engkau percayai ketimbang Allah Rabul Jallaluh.? Jika itu terjadi, betapa kufurnya engkau! Atau apakah menurutmu penyakit itu lebih hebat dibandingkan neraka? Jika demikian, betapa bodohnya engkau ini! Engkau membenarkan tapi tak mau mengambil pelajaran. Bahkan engkau terus saja condong kepada dunia. Lalu aku datangi diriku dan kuberikan padanya juru nasihat yang diam (kematian).

Kukatakan, “Pemberi nasihat yang berbicara (Alquran) telah memberitahukan tentang pemberi nasihat yang diam (kematian), yakni ketika Allah Rabbul Jallaluh berfirman:


 ‘Sesungguhnya kematian yang kalian hindari akan menjumpai kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada alam ghaib. Lalu Dia akan memberitahukan kepada kalian tentang apa yang telah kalian kerjakan’

(Q.S. al-Jumuah: 8).

” Kukatakan padanya, “Engkau telah condong pada dunia. Tidakkah engkau percaya bahwa kematian pasti akan mendatangimu? Kematian tersebut akan memutuskan semua yang kau punyai dan akan merampas semua yang kau senangi. Setiap sesuatu yang akan datang adalah sangat dekat, sedangkan yang jauh adalah yang tidak pernah datang.

Allah Rabbul Jallaluh. Berfirman:



‘Bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kenikmatan pada mereka selama beberapa tahun? Kemudian datang pada mereka siksa yang telah dijanjikan untuk mereka? Tidak berguna bagi mereka apa yang telah mereka nikmati itu.’

(Q.S. AsySyuara: 205-206).”

Jiwa yang merdeka dan bijaksana akan keluar dari dunia sebelum ia dikeluarkan darinya. Sementara jiwa yang lawwamah (sering mencela) akan terus memegang dunia sampai ia keluar dari dunia dalam keadaan rugi, menyesal, dan sedih. Lantas ia berkata, “Engkau benar.” Itu hanya ucapan belaka tapi tidak diwujudkan. Kerana, ia tak mau berusaha sama sekali dalam membekali diri untuk akhirat sebagaimana ia merancang dunianya. Ia juga tak mau berusaha mencari rida Allah Rabbul Jallaluh sebagaimana ia mencari rida dunia. Bahkan, tidak sebagaimana ia mencari rida manusia. Ia tak pernah malu kepada Allah Rabbul Jallaluh sebagaimana ia malu kepada seorang manusia. Ia tak mengumpulkan persiapan untuk negeri akhirat sebagaimana ia menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi musim kemarau.

Ia begitu gelisah ketika berada di awal musim dingin manakala belum selesai mengumpulkan perlengkapan yang ia butuhkan untuknya, padahal kematian barangkali akan menjemputnya sebelum musim dingin itu tiba. Kukatakan padanya, “Bukankah engkau bersiap-siap menghadapi musim kemarau sesuai dengan lama waktunya lalu engkau membuat perlengkapan musim kemarau sesuai dengan kadar ketahanan-mu menghadapi panas?” Ia menjawab: “Benar.” “Kalau begitu”, kataku, “Bermaksiatlah kepada Allah sesuai dengan kadar ketahananmu menghadapi neraka dan bersiap-siaplah untuk akhirat sesuai dengan kadar lamamu tinggal di sana.” Ia menjawab, “Ini merupakan kewajiban yang tak mungkin diabaikan kecuali oleh seorang yang dungu.” Ia terus dengan tabiatnya itu. Aku seperti yang disebutkan oleh para ahli hikmat, “Ada segolongan manusia yang separuh dirinya telah mati dan separuhnya lagi tak tercegah.”

Aku termasuk di antara mereka. Ketika aku melihat diriku keras kepala dengan perbuatan yang melampaui batas tanpa mau mengambil manfaat dari nasihat kematian dan Alquran, maka yang paling utama harus dilakukan adalah mencari sebabnya disertai pengakuan yang tulus. Hal itu merupakan sesuatu yang menakjubkan. Aku terus-menerus mencari hingga aku menemukan sebabnya. Ternyata aku terlalu tenang. Oleh karena itu berhati-hatilah darinya. Itulah penyakit kronis dan sebab utama yang membuat manusia tertipu dan lupa.Yaitu, keyakinan bahwa maut masih lama. Seandainya ada orang jujur yang memberikan kabar pada seseorang di siang hari bahwa ia akan mati pada malam nanti atau ia akan mati seminggu atau sebulan lagi, niscaya ia akan istikamah berada di jalan yang lurus dan pastilah ia meninggalkan segala sesuatu yang ia anggap akan menipunya dan tidak mengarah pada Allah Rabbul Jallaluh.

 

Jelaslah bahwa siapa yang memasuki waktu pagi sedang ia berharap bisa mendapati waktu sore, atau sebaliknya siapa yang berada di waktu sore lalu berharap bisa mendapati waktu pagi, maka sebenarnya ia lemah dan menunda-nunda amalnya. Ia hanya bisa berjalan dengan tidak berdaya. Karena itu, aku nasihati orang itu dan diriku juga dengan nasihat yang diberikan.

 Rasulullah ketika beliau bersabda;

”Salatlah seperti salatnya orang yang akan berpisah (dengan dunia).” Beliau telah diberi kemampuan berbicara dengan ucapan yang singkat, padat, dan tegas. Itulah nasihat yang berguna.

Rujukan: Al Ghazaly - Bidayatul Hidayah


Wednesday

TAWAJJUH (TUMPUAN HATI KEPADA ALLAH S.W.T.)


Tawajjuh dari segi bahasa ialah menghadap . Dari segi istilah tasawwuf beerti pentalkinan atau pembacaan zikir oleh mursyid  atau syeikh kepada muridnya secara berhadapan .

(ms. 66 Istilah Usuluddin dan Falsafah Islam ,DBP)


Tawajjuh dalam Solat .
Abu Daud (909) dan lainnya meriwayatkan bahawa Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud:
“Allah Azzawajalla sentiasa mengadap hamba – Nya secara berdepan ketika solat selagi hamba – Nya tidak berpaling. Sekiranya hamba – Nya berpaling maka Allah berpaling daripadanya.”

Menurut hadis ini, ulama’ fiqh mengambil hukum iaitu makruh memalingkan tengkok ketika solat kecuali kerana keperluan.(Fiqhul Manhaji, 166). Dari segi tasawwuf pula , hati  seseorang yang menunaikan solat hendaklah sentiasa menghadap kepada Allah s.w.t. dan berpaling dari selain – Nya sepertimana yang dinyatakan oleh Imam al – Ghazali :

“Dan janganlah engkau berkata ‘Wajjahtu wajhi’ iaitu aku hadapkan muka melainkan hati engkau sudah menghadapi dengan semuanya kepada Allah saja dan berpaling terus dari yang lainnya.
(Kitab al- Arba’in fi Usul al – Din)

Nabi s.a.w. menjelaskan hakikat berpaling dalam hadis riwayat yang Bukhari (718) yang bermaksud :
“ Ia adalah suatu bentuk kecurian yang dilakukan oleh syaitan terhadap solat seseorang hamba.”

Oleh itu, hikmah solat terhadap seseorang berbeza – beza mengikut sebanyakmana tawajjuh hatinya kepada Allah s.w.t. Sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud :
“ Seseorang yang beransur daripada solatnya, dituliskan baginya pahala daripada persepuluh pahala solatnya, 1/9, 1/8, 1/7, 1/6, 1/5, 1/4, 1/3 atau ½.”
(Riwayat Abu Daud dan al – Nasa’i, Ibn Hibban dan al – Hafiz al – Iraqi menganggapnya sahih).  

Fadhilat tawajjuh dalam solat
Imam Muslim meriwayatkan Nabi s.a.w. bersabda yang bermaksud :
“ Sesungguhnya seseorang yang berdiri dan solat serta memuja – muji Allah s.w.t. dengan pujian yang selayak bagi – Nya , serta mengosongkan hatinya bagi Allah s.w.t. kecuali tatkala ia keluar daripada dosa – dosanya seperti anak yang baru dilahirkan.”

Cara untuk tawajjuh dalam solat
Untuk memalingkan hati dari makhluk dan terus kekal menghadap Allah s.w.t. tidaklah semudah yang dikata. Ianya memerlukan mujahadah yang berterusan dan bimbingan dari wakil – wakil Nabi s.a.w. Hadirilah majlis – majlis tawajjuh/zikir yang dianjurkan oleh para ulama’ rabbani (ulama yang mempelajari, menghayati dan mengajar al – Quran) , insyaAllah anda akan berjaya.

kredit:Blog abuarfan

Saranan Taqarrub kepada Allah

 

Saranan Taqarrub kepada Allah          

Taqarrub berarti pendekatan diri kepada Allah. Ia merupakan tujuan utama kehidupan para sufi. Karenanya mereka berusaha maksimal  melaksanakan kefarduan, yang disunatkan, termasuk memperbanyak zikrullah.

 Allah memberikan ‘peluang’ untuk mendekatkan diri kepada-Nya karena Ia dekat dengan hamba-Nya.

”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku” 

(QS al-Baqarah 186)”. 

Dan Kami lebih dekat kepadanya aripada rat lehernya” (QS Qaaf 16).

 Ayat terakhir ini menurut Quraish Shihab tidak dapat dipahami bahwa Allah menyatu dengan diri manusia, sebagaimana dipahami sementara kaum sufi (harus ada pemisahan antara Khalik-makhuk), karena kedekatan di sini dimaksudkan kedekatan ilmu-Nya.

Perlunya taqarrub itu juga didukung hadis Qudsi “Bila hamba-Ku mendekati-Ku sejengkal Aku mendekatinya sehasta, bila mendekati-Ku sehasta Aku mendekatinya sedepa, bila sedepa Aku mendekatinya sepuluh depa”. “Bila hamba mendekati-Ku dengan melaksanakan kefardhuan dan yang disunatkan, Akupun mencintainya sehingga segala gerak-geriknya dalam bimbingan-Ku”.


 Ayat dan hadis Qudsi di atas berisi anjuran taqarrub, sejalan kandungan ayat 56 al-Zariyat; jin dan manusia  dicipta agar beribadah kepada Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, mahdhah dan ghairu mahdhah.

 Mahdhah adalah melaksanakan ibadah murni yang ditentukan Allah bentuk kadar waktu seperti salat. Ghairu mahdhah, segala aktivitas lahir-batin dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga menurut Quraish Shihab hubungan seks dapat menjadi ibadah jika dilakukan sesuai ketentuan agama.

 Berdasar hal ini maka ibadah dan taqarrub kepada Allah adalah tugas/ kewajiban, agar kita makin dekat dengan-Nya. Kedekatan dengan-Nya memudahkan memohon sesuatu: agar diampuni, diberi kesehatan, diberi rezeki yang halal, cepat dikabulkan oleh-Nya. Bagaimana sarana untuk taqarrub yang dibenarkan syara’. Inilah yang akan  diuraikan berikutnya.

 Sarana taqarrub diartikan alat yang digunakan bagi kepentingan pendekatan diri kepada Allah. Dalam kajian akidah  diistilahkan dengan wasilah (sarana) sebagaimana kandungan ayat 35 surah al-Maidah: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya (wasilah), dan berjihadlah di jalan-Nya supaya kamu mendapat keberuntungan”.

Ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, bahwa banyak cara/sarana yang dibenarkan syara’ yang dapat digunakan bagi kepentingan pendekatan diri kepada Allah.

Al-Jazairi menyebutnya al-wasail al-masyru’ah. Dalam kitab Aqidat al-Mukmin ia mencatatkan 16 al-wasail al-masyru’ah itu,  yaitu: iman, salat, puasa, sedekah, haji, umrah, jihad/ siaga di jalan Allah, membaca Alquran, berzikir dan bertasbih, membaca salawat atas Nabi, istigfar, doa, mendoakan orang-orang mukmin, membaca asma al-Husna (nama-nama Allah), mengerjakan kebaikan secara mutlak, dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan.

Dalam tulisan ini  dikemukakan lima saja di antaranya yaitu iman atau beriman kepada Allah dan apa saja yang diperintahkan mengimaninya; malaikat kitab Rasul kiamat dan takdir. Iman adalah perbuatan paling utama dan sarana paling mulia bagi mendekatkan diri kepada Allah.

Tentu saja iman yang dibuktikan dengan ketaatan (amal saleh), sehingga Alquran  menggandengkan penyebutan keduanya. Menurut Nabi ketaatan (baca: amal saleh)  tolok-ukur iman, iman akan meningkat kualitasnya dengan bertambahnya ketaatan dan akan menurun harkat/marabatnya jika berkurangnya ketaatan.

Salat, fardu maupun sunat merupakan amal paling utama dan dicintai Allah. Ketika ditanya tentang amal yang paling dicintai, Nabi menjawab; ‘salat pada waktunya’.

Salat mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar, bila tidak, maka kualitas salatnya perlu dipertanyakan. Puasa, bagi orang yang mencari kedekatan dengan Allah hendaklah  berpuasa, sarana pendidikan pengendalian diri dari bujukan hawa-nafsu yang diumpamakan al-Gazali bagai himar yang liar.

Salah-satu cara menjinakkannya adalah membuatnya lapar melalui ibadah puasa. Suatu ketika Abu Amamah menemui Nabi memohon amal yang membawa masuk surga. Nabi bersabda; ‘puasalah kalian, karena pahalanya tidak ada bandingannya’. Bersedekah dengan harta yang baik disertai ketulusan hati,  merupakan sarana  paling mudah bagi mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam beberapa hadis sahih Rasul bersabda; ‘Jauhilah api neraka walau dengan bersedekah sebiji kurma’. ‘Sedekah itu menolak datangnya bala’. Bersedekah mengangkat statusnya menjadi dermawan, yang dinilai dekat Allah, manusia dan surga, kemudian jauh dari neraka.

Berhaji, sebuah cara dan sarana terbaik pendekatan diri kepada Allah. Rasul bersabda:‘Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga’. berhaji dinilai sama pahalanya dengan membiayai perang fi sabilillah’.

Ketika tawaf di seputar Kabah, demikian menurut Ali Syariati, berarti mengelilingi Allah pemelihara Kabah dan bertemu dengan-Nya melalui bacaan zikir dan tasbih, yang  menunjukkan kedekatan hamba dengan Allah ketika berhaji.

Kesimpulan, banyak sarana yang dapat digunakan untuk taqarrub kepada Allah, yang intinya, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya berdasarkan iman yang dibuktikan ketaatan (amal saleh).

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan  beramal saleh, bagi mereka adalah surga firdaus menjadi tempat tinggalnya’(QS.al-Kahfi 107).

Wallahu a’lam bi al-Shawab.

 Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Lima Sarana Taqarrub kepada Allah, banjarmasin.tribunnews.com/2013/01/11/lima-sarana-taqarrub-kepada-allah?page=2.

Editor: Dheny Irwan Saputra

 

Istiqomah dalam bertaqwa


Istiqomah dalam bertaqwa

 5 tahap Taqwa dan 4 Cara untuk Memperolehnya!

Mengingat hubungan seseorang dengan Tuhan adalah kewajiban individu yang asasnya adalah pengetahuan, dan hidupnya diamalkan menurut Islam. Allah memanggil orang-orang yang beriman, memerintahkan mereka untuk berhati-hati: "Hai orang-orang yang beriman, berhati-hatilah kepada Allah."

5 Peringkat Taqwa (Kesedaran Tuhan)

Ibn Juzay al-Maliki seorang sarjana klasik yang hebat, menulis, "Tahap taqwa adalah lima:

1. Berhati-hati untuk jatuh tidak percaya. Inilah stesen penyerahan diri kepada Tuhan (الإسلام).

2. Berhati-hati untuk jatuh ke dalam dosa dan kejahatan. Inilah stesen taubat (التوبة).

3. Berhati-hati dengan perkara yang meragukan. Inilah stesen kehati-hatian (الورع).

4. Berhati-hati dengan yang dibenarkan. Inilah stesen ketidakpedulian (الزهد). Ibn al-Qayyim berkata, “Ada beberapa orang yang akan menunaikan kewajiban dan menghindari yang dilarang. Namun, Shaytan akan menyibukkan mereka dengan tindakan yang dibenarkan sehingga gagal memanfaatkan masa tambahan mereka. "

5. Berhati-hati membiarkan sesuatu masuk ke dalam hati kecuali Allah. Ini adalah tempat saksi (المشاهدة).

Taqwa dalam Amalan:

Suatu ketika ‘Saidina Umar Ibn Khatab RA bertanya kepada seorang sahabat, “jelaskan untuk saya taqwa.” Sahabat itu menjawab, "Sekiranya anda berjalan melalui jalan berduri dengan jubah yang mengalir, bagaimana anda akan berjalan?" Umar menjawab, "Saya akan mengumpulkan pakaian saya, meremasnya dengan ketat, dan berjalan dengan hati-hati." Sahabat itu menjawab, "Itu adalah taqwa."

Bagaimana Mendapat Taqwa?

Sekiranya anda dilahirkan sebagai seorang Muslim, atau menerima Islam, maka anda sudah memiliki ketaqwaan. Ini adalah berita baik dan harus berfungsi sebagai batu loncatan untuk memelihara dan mengembangkan hubungan anda yang sedia ada dengan Allah! Terdapat beberapa cara yang cukup jelas untuk melakukan ini. Walau bagaimanapun, pengetahuan dan amalan adalah dua entiti yang sangat berbeza:

1. Buat niat ikhlas untuk meningkatkan ketaqwaan anda.

2. Minta kepada Allah untuk memperbanyakkan tawqa anda. Secara otentik dilaporkan bahwa Rasulullah biasa memohon:


"Allahum Inni asalukal huda wa ttqa wal 'afaaf wal ghinaa."

 "Ya Allah, aku meminta petunjuk, ketakwaan, kebajikan dan kecukupan-Mu."

3. Untuk meningkatkan ibadah anda. Allah berfirman, "Sembahlah Allah ... kamu akan mendapat ketaqwaan."

4. Patuhi sunnah seboleh-bolehnya. Rasulullah bersabda, "Aku adalah orang yang paling takut kepada Allah." Oleh itu, mengikutinya adalah jaminan, jika niat seseorang itu betul, maka ia adalah jalan taqwa. Imam Malik berkata, “Sunnah itu seperti Tabut Nuh. Sesiapa yang menaiki k
apal terbang selamat. Siapa yang tidak, lemas. "

Pada penghujung hari, langkah-langkah ini seperti alat yang tergantung di garaj kami. Sekiranya kita menggunakannya, kita akan membina sesuatu. Sekiranya kita melalaikan mereka, membuat alasan, malas atau mempunyai perasaan buruk terhadap Tuhan kita, maka kita tidak perlu menyalahkan kecuali diri kita sendiri. Mulakan dengan menunaikan perbuatan wajib, meningkatkan jumlah sunnah, amal dan pertunangan sivik. Semua itu, jika dilakukan hanya untuk Allah, adalah Red Bull untuk bertaqwa tanpa penarikan diri!

Taqwa adalah kualiti yang kebajikannya luar biasa. Imam al-Faruzabadi menyebutkan 22 keutamaan taqwa yang disebut dalam Al-Quran! Carilah mereka di sini pada masa akan datang, insya Allah.

Untuk meningkatkan ibadah anda. Allah berfirman, "Sembahlah Allah ... kamu akan mendapat ketaqwaan."

Kredit : Imam Shuhail Webb

 


Monday

Meraikan Ramadhan ketika wabak


Related image

Meraikan Ramadhan ketika wabak.

Wabak taun  COVID-19 telah melumpuhkan seluruh dunia. Coronavirus novel ini tidak membezakan antara negara maju, membangun atau miskin yang telah terbukti tidak berdaya dan tiada kekuatan. Kesan negatif virus ini menjadi sangat jelas pada amalan umum umat Islam, menghentikan solat berjemaah dan aktiviti yang biasa dilakukan setiap hari di masjid.

Ketika Ramadhan menjelang, COVID-19 masih terus merebak. Virus ini kemungkinan besar akan mencegah amalan keagamaan jemaah seperti solat Tarawih dan khutbah di masjid, serta majlis iftar, terutama berdasarkan langkah-langkah “jarak social”. Banyak kerajaan juga menutup kementerian, organisasi, universiti dan sekolah dan memilih untuk bekerja dari rumah. Namun demikian, ini dapat menjadi sumber bantuan bagi umat Islam yang berpuasa, kerana akan membantu menjimatkan masa perjalanan dan menghindari pendedahan kepada virus.

Dalam keadaan seperti ini, kita diharuskan merasa bersyukur dan tidak merasa tertekan dengan wabak tersebut. Kita juga harus menyedari bahawa Ramadhan adalah anugerah dari Allah SWT kepada hamba-hambaNya. Oleh itu, kita harus merasa gembira dan bersukacita dengan kedatangannya, terutama mengingat kenyataan bahawa inilah bulan ketika pintu-pintu Syurga terbuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Ramadhan juga mempunyai malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Teruslah “istiqomah” dalam menunaikan ibadah dan beramal solih yang dituntut keatas setiap hambaNya yang beriman

Sunday

Menerapkan Syariah, Mewujudkan Ketakwaan Hakiki


[Salam%20Mohamad%20Hata%20Ghazali.gif]
Menerapkan Syariah, Mewujudkan Ketaqwaan Hakiki



Ketaqwaan hakiki, amat perlu kepada setiap individu muslim begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat, hanya akan terwujud dengan penerapan syariah Islam secara sempurna, yakni dengan menerapkan syariah Islam secara rasmi oleh negara untuk mengatur segala bentuk syariah Islam dikalangan masyarakat. Dengan kata lain, penerapan syariah Islam adalah kunci agar ketaqwaan individu-individu dan anggota masyarakat terwujud.

Alasannya, dengan penerapan syariah maka pintu-pintu ketaqwaan terbuka lebar, sementara pintu-pintu keharaman ditutup. Ketiadaan istiqomah dalam menerapkan syariah Islam secara syumul didalam sesebuah daulah Islam maka agak sukar mencapai tujuan daulah Islamiah dan membina ummah yang bertakwa akan menjadi sulit. Jangankan mewujudkan ketakwaan penduduk negeri secara bersama-sama, mewujudkan ketakwaan individu-perindividu saja sangat sulit. Kerana dalam kehidupan sekular, kapitalis dan hedonistik seperti saat ini, pintu ketaqwaan terus tersepit-sempit  sementara pintu-pintu kemaksiatan  terbuka luas..

Allah SWT telah memerintahkan kaum Muslim untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah, yakni berhukum pada seluruh hukum Allah SWT. Banyak ayat al-Quran dan hadis Rasul SAW. yang menyatakan kewajiban menerapkan syariah Islam secara kaffah itu. Allah SWT berfirman;
 Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu”
(QS. al-Maidah [5]: 48)
Kemudian,

“Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu” 
(QS. al-Maidah [5]: 49).


Ramadhan membina taqwa dan iman dalam masyarakat.


[Salam%20Mohamad%20Hata%20Ghazali.gif]

“Jika saja penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan bagi mereka pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi” 
(TQS al-A’raf [7]: 96).

Ayat di atas memang menggunakan penyampaian  berita, tetapi di dalamnya berisi pujian. Sesuai ketentuan ushul fikih, jika suatu berita disertai dengan pujian maka maknanya adalah perintah. Karena itu meski menggunakan cara penyampaian berita, sesungguhnya ayat tersebut memerintahkan penduduk negeri agar mereka beriman dan bertakwa secara bersama-sama dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketakwaan itu bisa direalisasikan oleh setiap individu Muslim dengan jalan senantiasa terikat dengan hukum-hukum Allah SWT di dalam kehidupannya. Caranya adalah dengan menjadikan halal dan haram atau syariah Islam sebagai ukuran dalam hidupnya. Dengan kata lain, yang halal diambil dan dilaksanakan, sementara yang haram dijauhi sejauh-jauhnya.

Ketakwaan bukan hanya harus diwujudkan pada tataran individu, namun juga harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. 


Saturday

Ramadhan: Bulan Menjana Ketakwaan Hakiki

[Salam%20Mohamad%20Hata%20Ghazali.gif]

Ramadhan:  Bulan Menjana Ketakwaan Hakiki


Ramadhan adalah bulan ibadah dan bulan menundukan hawa nafsu, bulan taqarrub, penghambaan dan pengorbanan kepada untuk Allah SWT, agar membentuk pribadi yang taqwa dan  taat kepada Allah SWT. Akan tetapi, faktanya tidak demikian. Ramadhan demi Ramadhan berlalu begitu saja tanpa adanya perubahan yang jelas  pada keadaan dan pemahaman umat ke arah membuat kebaikan.

Bulan Ramadan hanya dianggap ritual  tahunan sahaja  yang datang begitu saja tanpa mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan haus saja. Ramadhan pada tiap tahun menunjukkan makin jauhnya umat dari gambaran masyarakat yang Islami sebagai Khoiru Ummah  atau ummah contoh, kerusakan terjadi di segala segi terhadap umat akibat kemaksiatan dan berbagai pelanggaran Hukum Syara’ kerana tiada takwa sebagian besar umat. Di samping itu, umat Islam seharusnya menjadikan Ramadhan sebagai bulan perjuangan Syari’at Islam. 
Ramadhan bukan sekedar bulan ibadah, tetapi juga bulan perjuangan fii sabilillah. Seperti pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat, banyak terjadi peristiwa penting pada bulan Ramadhan, seperti Perang Badar, Futuh Makkah, dll. Hal ini memberikan dorongan yang jelas bagi umat Islam saat ini, untuk menjadikan Ramadhan kali ini sebagai momentum untuk membangkitkan umat dan meraih ketakwaan hakiki.

Mewujudkan Ketakwaan Hakiki

Semua amal salih yang dilaksanakan selama Ramadhan haruslah bisa memupuk ketakwaan pada diri kaum Muslim. Ketakwaan itulah hikmah yang mesti diwujudkan dari ibadah selama Ramadhan, terutama ibadah puasa. Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa” 
(TQS al-Baqarah [2]: 183).

Sebagaimana yang dikatakan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib ra., takwa adalah al-khawf min al-jalîl wa al-‘amalu bi at-tanzîl wa al-qanâ’atu bi al-qalîl wa al-isti’dâd li yawm ar-rahîl (takut kepada Allah Zat Yang Maha Agung, mengamalkan al-Quran, qana’ah dari dunia dengan [mengambil] sedikit dan menyiapkan bekal untuk menghadapi Hari Akhirat).


Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan, bahwa takwa adalah imtitsâlu li awâmirillâh wa ijtinâbu li nawâhîhi (melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya). Takwa bolih juga dimaknai sebagai kesadaran akal dan jiwa serta pengetahuan syar’i atas kewajiban untuk mengambil halal dan haram sebagai ukuran bagi seluruh aktivitas, lalu merealisasikannya secara praktis (‘amalî).

Ibadah Ramadhan, khususnya puasa, diwajibkan oleh Allah SWT kepada kaum Mukmin. Dengan melaksanakan ibadah puasa, kaum Mukmin akan bolih memupuk ketakwaan dalam diri mereka dan di tengah-tengah mereka. Syeikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi di dalam Aysar at-Tafâsîr menjelaskan makna firman Allah SWT ”la’allakum tattaqûn”, yakni agar dengan puasa itu Allah SWT mempersiapkan kalian untuk takwa, yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Selain merupakan hikmah yang mesti diwujudkan sebagai buah dari puasa dan ibadah Ramadhan, ketakwaan itu juga diperintahkan oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” 
(TQS Ali Imran [3]: 102